KONTESTASI Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bogor periode 2018-2023 sudah dimulai. Seperti diketahui bersama, ada lima pasangan calon yang mengadu nasib di Pilkada Kabupaten Bogor 2018.
Lima Paslon bupati dan wakil bupati yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bogor adalah sebagai berikut :
A. Nomor urut satu (1) Fitri Putra Nugraha atau Nungki -Bayu Sjahjohan, yang diusung PDIP dan Hanura.
B. Nomor urut dua (2) Ade Yasin-Iwan Setiawan, yang diusung PPP, PKB dan Gerindra.
C. Nomor urur tiga (3) Ade Ruhandi atau Jaro Ade-Inggrid Kansil, yang
diusung Partai Golkar, Demokrat, PAN, NasDem, PKS, PKPI dan PPP kubu
Djan Faridz.
D. Nomor urut empat (4) Gunawan Hasan-Ficky Rhoma Irama dari jalur perseorangan.
E. Nomor urut lima (5) Ade wardhana Adinata-Asep Ruhiyat, konfigurasi
politikus muda dengan birokrat berpengalaman yang maju dari jalur
perseorangan.
Memilih pemimpin baru untuk Kabupaten Bogor merupakan sebuah harapan
baru bagi 5.7 juta penduduknya di 40 kecamatan, dalam menyelesaikan
berbagai persoalan, yang belum mampu diselesaikan kepemimpinan
sebelumnya.
Secara geografis Kabupaten Bogor sangatlah luas dan memiliki jumlah
penduduk yang sangat besar. sehingga daerah ini mempunyai banyak sekali
problematika pembangunan di wilayah pinggiran. Itu terjadi karena
kurangnya pemerataan pembangunan infrastruktur, yang membuat ekonomi
masyarakat menurun, pelayanan kesehatan yang buruk, angka putus sekolah
tinggi serta minimnya lapangan pekerjaan.
Mengatasi problematika tersebut perlu cara kepemimpinan yang berani
agar bisa merubah carut marut pembangunan di Kabupaten Bogot. Harapannya
adalah benar-benar berubah menjadi kabupaten termaju, baik di bidang
teknologi (smart city) maupun infrastruktur.
Jika mau mencontoh, kepemimpinan yang berani dan merakyat ada pada
diri Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Presiden ketujuh ini sebelumnya
menjabat sebagai Wali Kota Solo 2 periode dan Gubernur DKI Jakarta.
Para calon bupati harus mencontoh sikap dan dedikasi Jokowi dalam
mengemban amanah sebagai pemimpin dari keberanian mengambil kebijakan
yang pro rakyat. Jokowi berhasil membangun daerah-daerah pinggiran untuk
pemerataan pembangunan, sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat di pelosok negeri ini.
Selain keberanian dan kecerdasan, masyarakat Kabupaten Bogor butuh
pemimpin yang low profile dan tidak eklusiv, yang suka memamerkan harta
kekayaan dan jabatannya, namun sangat minim prestasi kerja.
Calon bupati Bogor harus membangun daerah-daerah perbatasan, seperti
di wilayah barat dan timur, memberantas angka putus sekolah, membuat
lapangan pekerjaan untuk menekan angka pengangguran serta program
monitoring para birokrat dalam melayani masyarakat.
Keinginan itu semua, bisa terjadi apabila bupati Bogor terpilih
nanti berani dalam mengambil kebijakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan
hanya sekadar mengedepankan dari mana asal keluarga.
Namun, tolak ukurnya adalah visi dan misi.
Hal lain yang harus menjadi komitmen adalah penegakan hukum dan
pemberantasan korupsi. Masih sangat melekat dalam ingatan ketika terjadi
Operasi Tangkap Tangan (OTT) bekas Bupati Bogor dua periode, Rachmat
Yasin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kasus tersebut membuat
masyarakat kecewa karena pemimpin yang dipilihnya bertindak dan
melakukan perbuatan melawan hukum.
Untuk itu perlu penegasan kembali bahwa pemimpin harus sederhana dan
berprilaku amanah. caranya adalah dengan revolusi mental bagi semua
calon pemimpin, baik jabatan eksekutif maupun legislatif.
Jadi, sebelum merevolusi mental rakyat, patut terlebih dahulu dilakukan kepada para pemimpin atau calon pemimpin.